Selasa, 17 Agustus 2010

CERITA TENTANG PSHT



Perbincangan Pelatih dengan Siswanya (1) - sebuah cerita tentang PSHT


"Mas, apakah contoh konkritnya "Manusia itu bisa dimatikan, manusia itu bisa dihancurkan, tetapi manusia tidak bisa dikalahkan selama ia setia pada hatinya?". Karena sampai sekarang saya belum paham maksudnya,"

Pertanyaan itu dilontarkan dengan tiba-tiba oleh seorang siswa, pada suatu malam setelah latihan usai. Pelatihnya terdiam sejenak, menilai siswa yang bertanya di hadapannya, sungguh bukan pertanyaan yang sembarangan, tetapi juga cukup sulit untuk dijawab, apalagi untuk seorang pelatih muda seperti dirinya yang merasa belum mumpuni dalam bidang ke-SH-an. Tingkat 2 saja belum, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan ini? sementara wajah si Siswa seolah penuh harap menginginkan jawaban.

Tetapi syukurlah Tuhan memberinya pencerahan. Pelatih itu kemudian balik bertanya,
"Apakah kamu pernah punya seorang kakek, nenek, atau saudara yang sudah meninggal?"
"ya, mas. Kakek saya sudah meninggal," siswanya mengangguk.
"Kamu masih ingat padanya sampai sekarang?"
"Ya, masih."
"Kenapa?"
"Ya... karena... dia selalu ngasih saya uang jajan tambahan," Siswanya tertawa malu.
"menurutmu almarhum kakekmu orang yang baik?"
"ya iya mas...sayang banget sama cucu-cucunya, terus katanya dia dulu pejuang 45,"
"kamu masih sering mendoakan almarhum kakekmu?"
"iya mas... kalau setiap lebaran pasti mendoakan di makamnya,"
"Nah, begini..., 'manusia bisa dimatikan', Kakekmu saat ini sudah meninggal, bukan? Lalu berikutnya "manusia bisa dihancurkan", maaf, saat ini jasad kakekmu juga pasti sudah mulai hancur bukan?"
"Iya sih mas..." Siswa itu mulai berpikir, mencerna maksud kalimat pelatihnya. Tetapi tampaknya ia belum menemukan sesuatu.
"Bisakah kukatakan, kalau kakekmu itu kalah oleh usia? Usia manusia terbatas bukan? Pasti manusia suatu saat akan mati, bukan? Pasti ia akan kalah dengan usia tua, bukan?"
"Iya mas... manusia pasti akan kalah dengan usia. Tapi di semboyan kan katanya "manusia tidak bisa dikalahkan.."
".. selama ia ber-SH terhadap dirinya sendiri,," lanjut pelatihnya. "Nah dik, saat ini kakekmu sudah meninggal, jasadnya sudah hancur, tapi sampai sekarang kamu masih mengingat kakekmu, mengingat kebaikan hatinya, keberaniannya, dan bahkan kamu juga masih sering mendoakannya. Sekarang, katakan padaku, apakah kakekmu kalah?"
Siswanya terdiam sesaat.

"Nah, mbah Harjo yang menjadi pendiri SH Terate, beliau sudah meninggal, jasadnya juga pasti sudah hancur, tetapi sampai sekarang organisasi SH terate masih berdiri tegak, masih banyak orang yang mau latihan di SH, dan kita masih berlatih jurus-jurus yang dia ajarkan, kita masih membahas Ke-SH-an yang dia ajarkan, kita masih menjunjung tinggi nama SH Terate sebagai organisasi pencak silat yang kita banggakan... nah, apakah mbah Harjo bisa dikatakan 'kalah'?"

Mata siswanya mulai berbinar-binar, ia mulai menemukan sendiri maknanya.
"Oooh... begitu..."
"ya, kira-kira begitu contoh konkretnya. Sudah paham kan?" Jawab pelatihnya. Hatinya terasa lega karena bisa menjawab. Diam-diam ia ber-alhamdulillah dalam hati.

tetapi beberapa saat kemudian, siswanya kembali bertanya pertanyaan sulit,
"Lalu bagaimana caranya untuk menjadi orang yang ber-Setia Hati?"
Pelatihnya terhenyak. Cerdas betul siswa ini ! Spontan ia mengacak-acak rambut kepala siswanya dengan gemas. Siswa itu pasrah saja dibegitukan, sedikit geli karena siswa itu menyadari dirinya telah menanyakan pertanyaan cerdas yang lain.
"kamu ini ! ya untuk itu kita latihan, bukan?" ia tertawa, hatinya senang karena ada satu siswanya yang bukan saja mau melatih tubuhnya, tetapi juga mengasah pikirannya.
"lain kali akan kujelaskan, sekarang kamu pulang dulu saja, oke? Sudah larut !"
Siswanya mengucapkan terimakasih, lalu pamit pulang. sepulangnya di rumah ia tidak segera tidur, tetapi menuliskan pelajaran yang ia dapat malam itu di buku catatan hariannya. ia menulis:

"orang yang ber-Setia Hati" akan terus diingat dimanapun dan kapanpun, menembus ruang dan waktu. Meskipun kakekku sudah meninggal, atau mbah Harjo juga telah meninggal, aku masih mengingatnya dan mendoakannya. Mbah Harjo, kita masih berlatih jurus-jurusnya dan SH Terate yang didirikannya masih besar. Kakekku tidak kalah karena ia ber-SH, mbah Harjo juga tidak kalah karena ia ber-SH. Tetapi, bagaimana caranya menjadi orang yang ber-SH?"
artikel ini di tulis di kantor bikinprofildotcom oleh zakhy

2 komentar:

cahkeNEOmahe mengatakan...

itu adalah bekal para murid2 bpk hardjo utomo untuk berjuang melawan penjajah. musuh/penjajah bisa membunuh kita dan menghancurkan kita, tapi kita tidak akan pernah mengaku/mau kalah walau harus mati. ber-Setia Hati adalah karena kita yakin bahwa yg kita bela adalah barang yg benar (Nusa Bangsa Agama. ini adalah implementasi pada waktu itu.

muhamad santoso mengatakan...

siiippp mase

Poskan Komentar

world clock